Sabtu, 02 Maret 2019

Sejarah Indonesia pada masa Hindia Belanda ( Masa Interregnum dan Masa Herman Willem Daendels)


- Masa Interregnum / Masa Peralihan ( 1800 - 1808 )

  Krisis politik dialami oleh kerajaan Belanda pada masa ini disebabkan oleh perang Koalisi antara Perancis melawan Inggris. sejak Revolusi Perancis, Perancis berubah yang awalnya dari monarki absolut menjadi monarki konstitusional. dari sini lah paham monarki konstitusional ini mulai menyebar ke seluruh dataran Eropa. Inggris yang sudah nyaman dengan sistem Monarki absolut pun menolak akan sistem monarki konstitusional. oleh karena itu, Inggris pun perang terhadap Perancis. 
Peperangan itu dimenangkan oleh Perancis dan saat itu pula Perancis mencoba mempengaruhi kerajaan Belanda yang dimana sedang dalam keadaan krisis politik. Kedudukan Raja William I (Raja Kerajaan Belanda) pun di kudeta oleh partai politik yag bernama Partai Patriot. setelah kedudukan Raja William I di kudeta oleh Partai Patriot, otomatis Belanda berada di bawah kontrol dari negara Perancis. Perancis pun mulai mengambil alih semua daerah jajahan dari kerajaan Belanda yang salah satunya adalah Pulau Jawa.

- Masa Gubernur Jendral Herman W. Daendels (1808-1811)
  Louis Napoleon pun memerintahkan Herman W. Daendels untuk mempertahankan Pulau Jawa dari serangan Inggris. secara tidak langsung, Jawa bukan lagi jajahan Belanda, namun menjadi jajahan Perancis. dalam rangka mempertahankan Pulau Jawa dari Inggris, Daendels pun banyak melakukan pembangunan dan kebijakan di Pulau Jawa, mulai dari pertahanan dan keamanan, ekonomi dan sosial.
  Kebijakannya di bidang pertahanan dan keamanan antara lain :
a. Membangun jalan raya pos Anyer-Panarukan sejauh 1000km.
b. Membangun pabrik senjata di Gresik dan Semarang.
c. Membangun pangkalan Angkatan laut di Ujung Kulon dan Surabaya.
d. Memperkuat benteng pertahanan.
e. Meningkatkan kesejahteraan prajurit.
  
  Kebijakanya di bidang Ekonomi antara lain :
a. Mengembangkan uang kertas.
b.Memperbaiki gaji karyawan.
c. Memberlakukan pajak in nature ( Contingenten) yaitu membayar pajak dengan menggunakan hasil bumi seperti kopi, lada, teh, dll.
d. Memberlakukan Preanger Stelsel (Tanam Paksa).
e. Memonopoli perdagangan bebas.

  Kebijakannya di bidang Sosial antara lain :
a. Memberlakukan kerja rodi dan perbudakan yang menyebabkan timbul banyak korban jiwa.
b. Menghapus upacara penghormatan kepada residen, sunan dan sultan.
c. Membuat jaringan pos distrik.

  Daendels sendiri dibenci oleh rakyat Jawa karea kebijakannya yang memang merugikan rakyat Jawa sendiri.bahkan ia diberi sebutan tangan besi oleh rakyat Jawa karena sifatnya yang keras.Akhirnya kabar Daendels yang keras itu masuk ke telinga Napoleon Bonaparte dan memerintahkan agar Daendels diganti karena ketakutan Napoleon akan keberpihakkan rakyat Jawa kepada Inggris.
  Akhirya Daendels pun dilengserkan dan digantikkan oleh William Jenssen. pada masa Jenssen ini belanda harus takluk oleh Inggris. Ia sendiri lari ke kota Semarang da akhirnya tertangkap di sebuah desa. Akibat kekalahan Belanda ini, muncullah perjanjian yang bernama Kapitulasi Tuntang (1811) yang isinya adalah : 

a. Seluruh Jawa diserahkan kepada Inggris
b. Semua tentara menjadi tawanan Inggris
c. Pegawai Belanda yang mau kerjasama dengan Inggris memegang jabatan.
d. Hutang Belanda bukan tanggung jawab Inggris
Akhirnya, Pulau Jawa pun jatuh ke tangan Inggris dibawah pimpinan Sir Thomas Stamford Raffles.

- Masa Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1815)

  Pada masa Raffles ini lebih bersifat bebas , berbeda dengan masa Daendels yang lebih Konservatif atau Tradisional. ini karena Raffles sendiri memiliki prinsip Liberalisme dimana semua didasarkan kepada kebebasan pengakuan HAM. banyak kebijakan masa Daendels yang dihapus oleh Raffles ini seperti kebijakan :
a. Kerja Rodi dan perbudakan
b. Preanger Stelsel
c. Monopoli rempah-rempah
Raffles pun membuat kebijakan baru yaitu Sewa tanah hanya saja, kebijakan itu gagal. faktor yang menyebaban sewa tanah ini gagal antara lain :

a. Pemerintah sulit menyita tanah karena tidak ada sertifikat tanah.
b. Petani diberi kebebasan menanam apapun yang membuat para petani kebingungan akan menanam   apa. Petani bingung karena petani biasa disuruh karena adanya tanam paksa tersebut.
c. Petani tidak mengenal ekonomi uang karena biasa menggunakan sistem barter.

Sebenarnya masih banyak kebijakan Raffles saat memerintah di pulau Jawa seperti :

 Di bidang Birokrasi dan Pemerintahan :  

a. Membagi pulau Jawa menjadi 18 keresidenan.
b. Mengubah sistem pemerintahan yang awalnya dilakukan oleh para penguasa pribumi menjadi sistem pemerintahan kolonial yang bercorak Barat
c. Bupati-bupati atau penguasa-penguasa pribumi dilepaskan kedudukannya yang mereka peroleh secara turun-temurun
d. Sistem juri ditetapkan dalam pengadilan.

  Di bidang Ekonomi :
 

a. Petani diberikan kebebasan untuk menanam tanaman ekspor, sedang pemerintah hanya berkewajiban membuat pasar bagi petani saja.
b. Penghapusan pajak hasil bumi (contingenten) dan sistem penyerahan wajib (verplichte leverantie).

  Di bidang Sosial :

a. Penghapusan kerja rodi (kerja paksa) dan penghapusan perbudakan.
b. Peniadaan pynbank (disakiti), yaitu hukuman yang sangat kejam dengan melawan harimau.

  Di bidang IPTEK :

a. Ditulisnya buku berjudul History of Java di London pada tahun 1817.
b. Ditulisnya buku berjudul History of the East Indian Archipelago pada tahun 1920.
c. Ditemukannya bunga Rafflesia Arnoldi.
d.  Dirintisnya Kebun Raya Bogor.

  Karena Raffles gagal dan tidak bisa memberikan apa-apa kepada Inggris, Pulau Jawa pun dianggap tidak berguna oleh pemerintah Inggris. Belanda pun lepas dari Perancis da Raja William II kembali ke tahtanya dan mulai berdiplomasi untuk mengambil kembali pulau Jawa dari Inggris. Akhirnya lahirlah perjanjian "Convention of London" pada tahun 1814. Indonesia pun kembali ke pangkuan Belanda hingga 1942.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar